Sabtu, 25 Juli 2020

Sapu Tangan yang Membungkus Doa



Selembar sapu tangan itu tak mudah kepam. 
Meski ia disulam oleh manik-manik air mata yang jatuh dan mengeras di jendela, mengetuk-ngetuk salam kepada atmamu yang setia di dalam perjanjian & persaksian 
; Menjadi budak, ialah menebas hendak-hendak,
Dan kau bungkus lagi rasa yang tak pernah terucap itu ke dalam selembar sapu tangan yang kau pinjam dari dia. 
Dia yang merajutnya dengan air mata kemudian ditabahkan oleh bait-bait puisi Pak Sapardi yang abadi.


-enam hari setelah 'orangtua' itu pergi dan kaca jendela yang berembun tetap melukis kamu.

Minggu, 12 Juli 2020

Ada



Bicaraku padamu
Lewat lagu
Juga puisi
Serta  doa-doa. 
kusenandungkan 
kutulis
kutumpangkan di udara
diarak awan-awan 
dikawal sayap-sayap semerbak kasturi 
kata penyair, 
ada manusia yang abadi di dalam rasa, namun sulit bertatap mata.
Jangan bilang itu kita
Jangan sebut itu kita
Bagaimana mungkin kita sulit bertatap, jika biasmu menyepuh semesta?

Selasa, 30 Juni 2020

Menutup Juni

Foto Andiahzahroh


Juni tumbuh sekurus batang daun kupu-kupu
rentan patah oleh sapu-sapuan angin rindu
kecuali akarmu tangguh
biar diserapnya saja satu kata yang tadi telanjur kau ucapkan itu

Sabtu, 27 Juni 2020

Ambillah



Tuhan, jika rindu ini kepunyaanMu
Maka ambillah
Biar tidak terbakar oleh compang-campingnya hawa nafsuku
Biar tidak melepuh oleh tamak-tamaknya naluri insaniku
Biar tidak membusuk  oleh liar-liarnya geloraku

Ambillah
ambillah kuntum suci itu dari sekotor-kotornya tanganku
ambillah
ambillah...






Kamis, 18 Juni 2020

Menunggumu




Separuh bulan paling tabah di dalam puisi Pak Sapardi telah terlewati
Rintik-rintik hujan itu masih sama
Akar – akar pohon berbunga yang menyimpan satu kata tak terucap itu masih sama
Kaupun masih sama
Meski tak datang,
Kau tidaklah pergi
Aku percaya kau di situ
Tetap di situ.


Rabu, 03 Juni 2020

Pagi

Pagi itu kamu
kicau burung, kokok ayam, desir angin, rumput basah, sisa embun, suara tetesan air kran di bak, lengking jerit ketel air mendidih, sepiring pindang ikan yang selalu mengingatkanku pada hari ketika seseorang mengatakan gule-gule
; ialah kamu



Yang Menetap


Pada sebentang hening
Kudengar bising-bising
Dari masa lalu masa depan
Masa-masa kau ada kau pergi dan kau yang masih saja terpencil
Di dalam intiku.