Selasa, 07 Januari 2020





Dia terbuang dan tidak diharapkan siapapun untuk tumbuh
Betapapun sempit terimpit, tetap saja dia hidup menembus batu-batu
Barangkali, demikian juga rindu.


Minggu, 17 November 2019

Love is You

Dahulu saya berpikir, selawat yang dilantukan para muslimin hanya berfungsi untuk meraih syafaat dari Baginda Nabi Muhammad Saw. Jika hanya demikian, apakah tak cukup istigfar dan tahlil yang dipanjatkan langsung kepada Allah? Bukankah sudah sangat manjur memohon langsung pada Allah, yang tiada zat apapun lagi yang lebih kuasa dari Dia untuk menolong kita?

Apa yang saya pikirkan ini membuat saya sangat sedikit berselawat. Saya menganggap istigfar dan kalimat-kalimat thayyibah (tahlil, tahmid, tasbih) yang tertuju kepada Allah sudah sangat cukup, tak terlalu pentinglah wasilah (perantara) selawat itu.

Namun, sebuah peristiwa kecil menyadarkan saya. Sebuah peristiwa ‘jatuh cinta’ yang memberikan pemahaman mendalam tentang makna selawat.

Sabtu, 16 November 2019

Perahu Kertas Dimakan Api


Sebelum dia kirimkan dua screenshot tentang al-isyq kepadamu, dia mengirimkan kepada temannya dua hari lalu. Temannya itu pernah ditinggal oleh N (teman bicaranya).  N itu mabuk cinta pada temannya.  Beberapa kali N mengatakan, dia takut dilupakan oleh temannya.  Tapi pada akhirnya N pergi,  memblokir semua sosmed dan akses percakapan-percakapan mereka.  Suatu hari  saat temannya ingin menyapa N, barulah diketahui semua pintu sudah terkunci.  

"Betapa egois, dia yang takut dilupakan,  malah melupakan lebih dahulu." Begitu kata temannya. Dan  agaknya, sang teman sedang menyindirnya. 

Jumat, 15 November 2019

Perjalanan Menuju Kamu


Ketika dia membuka kembali pintunya untukmu, itu adalah hari ketika ia merasai, bagaimana jika ia sedang ingin berkunjung namun semua pintu tertutup juga tergembok.

“Kau egois. Kau sangat egois. Kau memang egois.” Tuduhan menyakitkan itu dia terima dari seorang teman yang mereka selalu berbagi kepercayaan.

“Kau mengatakan dia ada tapi kau mengeluarkannya dengan paksa.” Cecarnya lagi.

“Tidak. Maksudku tidak begitu,” dia berkilah gugup.

Selasa, 12 November 2019

Jalan Sunyi


Ada berapa banyak orang yang sanggup menempuhi jalan sunyi?

Tak banyak.

Karena sungguh tak mudah, ketika orang-orang menebar kebaikan dari panggung yang gempita dan riuh dengan tepuk tangan bertahta puji-pujian, maka kau yang memilih jalan sunyi harus jauh dari gegap-gegap itu.

Tak mudah, ketika satu hal yang dilakukan orang-orang terpublikasi meriah, kau yang memilih jalan sunyi harus menyeka keringatmu sendiri yang menetes di sepanjang pengembaraan menarik beban gerobak berisi orang-orang kesakitan yang coba kau tegarkan atas nama janji-janji ilahi.

Sabtu, 05 Oktober 2019

[Surat Ibu] Apakah Ibu Ingin Aku ke sana?


Ibu, sedang musim apa di sana?

Di sini, meski terang meski hujan, musimnya tetap sendu, Ibu.

Orang-orang tumbang terlalu banyak menelan asap racun.
Orang-orang tergelimpang dicincang-cincang kebengisan pisau politik.
Yang lucu, entah ini benar atau hoax (izinkan sekali ini aku berbagi kabar gossip), di Senayan sana, seorang anggota DPR RI yang baru dilantik dan berfoto dengan tiga istrinya yang kinyis-kinyis sekaligus, dia, bapak berdasi itu justru tertidur di sidang pertamanya. Aku selalu takjub dengan mata kamera yang dapaaat saja pemandangan bagus dan membuat lambe netijen nyinyir, “Beliau terlalu lelah dengan tiga istrinya.”

Ah. Di sini, sungguh musim hanya sendu serupa itu, Ibu. Saling hujat, saling hajar, saling menebalkan hati yang semestinya digunakan untuk memahami.