Laman

Tampilkan postingan dengan label syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syair. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Agustus 2023

Laut Kotamu


 

Seseorang mengirim gambar rembulan yang mengambang di atas laut kotamu. Dia terkekeh. Seumpama semesta tak menginginkan dia lepas begitu saja dari segala sesuatu perihal kamu.

 Dia terkekeh lagi, lalu menulis sebaris puisi.


 “Pada akhirnya, rembulan akan semakin tinggi lalu menghilang

Kegelapan menelan riak-riak air, debur ombak, dan lagu-lagu kenangan yang terdengar dari kejauhan

Tapi itu tak akan mampu menyembunyikan cinta yang paling diam dari pandangan mata

apalagi dari hati."


 Lalu dia menunggu fajar tiba.

Kokok ayam. Deru mesin perahu. Dan cerita-cerita pagi yang dihangatkan di atas tungku rumah-rumah nelayan, terdengar sangat meriah. Namun, cintanya masih saja pendiam. Akan selamanya diam di pandangan mata, juga hati. 



Minggu, 13 Maret 2022

Rela

 


Orangtua bilang, rasa sakit atas kehilangan akan reda oleh kerelaan

Pada yang tak hilang sekaligus yang tak jua bisa pulang

Terentang jarak menjebak 

Senin, 07 Juni 2021

Geming

 Adakah rumah yang diketuk tanpa jawaban itu telah ditinggalkan penghuninya? Atau mungkin dia masih ada di sana, tidak ke mana-mana, hanya saja memilih untuk tidak menjawab? 

Dan kau, untuk apa masih tetap berdiri di situ? 

Aku berharap kau lelah kali ini. 
Pulanglah. 
Dia sudah tak ingin membukakan pintu untukmu lagi. 
Pulanglah. 
Pulanglah. 
Sejuta kali akan kumohon kau pulanglah, meski aku tahu kau akan terus saja keras kepala. 

Selasa, 09 Februari 2021

Tersenyumlah

 

Jika harus memetik mawar setiap kali mengingatmu, maka selamanya dia harus hidup di taman bunga...

 

Hai, apakah Februari adalah musim cinta?

Tidak.

Februari adalah musim tanammu.

Empat puluh menjadi jumlah butir benih-benihnya. Semakin dekat. Untuk panen raya di jannah.

 

 Bersungguh-sungguhlah…

Minggu, 13 Desember 2020

Kiranamu

Apakah itu 
Suara degubku sendiri 
Yang nyaring terdengar 
Saat kusebut namamu lirih 
 Apakah itu 
Detak jantungku sendiri 
Yang goncang 
 Saat kucumbu rindumu sepi 
 Apakah itu 
Apakah seakbar itu kau di dalam aku yang repih?

Sabtu, 25 Juli 2020

Sapu Tangan yang Membungkus Doa



Selembar sapu tangan itu tak mudah kepam. 
Meski ia disulam oleh manik-manik air mata yang jatuh dan mengeras di jendela, mengetuk-ngetuk salam kepada atmamu yang setia di dalam perjanjian & persaksian 
; Menjadi budak, ialah menebas hendak-hendak,
Dan kau bungkus lagi rasa yang tak pernah terucap itu ke dalam selembar sapu tangan yang kau pinjam dari dia. 
Dia yang merajutnya dengan air mata kemudian ditabahkan oleh bait-bait puisi Pak Sapardi yang abadi.


-enam hari setelah 'orangtua' itu pergi dan kaca jendela yang berembun tetap melukis kamu.

Minggu, 12 Juli 2020

Ada



Bicaraku padamu
Lewat lagu
Juga puisi
Serta  doa-doa. 
kusenandungkan 
kutulis
kutumpangkan di udara
diarak awan-awan 
dikawal sayap-sayap semerbak kasturi 
kata penyair, 
ada manusia yang abadi di dalam rasa, namun sulit bertatap mata.
Jangan bilang itu kita
Jangan sebut itu kita
Bagaimana mungkin kita sulit bertatap, jika biasmu menyepuh semesta?

Selasa, 30 Juni 2020

Menutup Juni

Foto Andiahzahroh


Juni tumbuh sekurus batang daun kupu-kupu
rentan patah oleh sapu-sapuan angin rindu
kecuali akarmu tangguh
biar diserapnya saja satu kata yang tadi telanjur kau ucapkan itu

Sabtu, 27 Juni 2020

Ambillah



Tuhan, jika rindu ini kepunyaanMu
Maka ambillah
Biar tidak terbakar oleh compang-campingnya hawa nafsuku
Biar tidak melepuh oleh tamak-tamaknya naluri insaniku
Biar tidak membusuk  oleh liar-liarnya geloraku

Ambillah
ambillah kuntum suci itu dari sekotor-kotornya tanganku
ambillah
ambillah...






Kamis, 18 Juni 2020

Menunggumu




Separuh bulan paling tabah di dalam puisi Pak Sapardi telah terlewati
Rintik-rintik hujan itu masih sama
Akar – akar pohon berbunga yang menyimpan satu kata tak terucap itu masih sama
Kaupun masih sama
Meski tak datang,
Kau tidaklah pergi
Aku percaya kau di situ
Tetap di situ.


Rabu, 03 Juni 2020

Pagi

Pagi itu kamu
kicau burung, kokok ayam, desir angin, rumput basah, sisa embun, suara tetesan air kran di bak, lengking jerit ketel air mendidih, sepiring pindang ikan yang selalu mengingatkanku pada hari ketika seseorang mengatakan gule-gule, 
; ialah kamu



Yang Menetap


Pada sebentang hening
Kudengar bising-bising
Dari masa lalu masa depan
Masa-masa kau ada kau pergi dan kau yang masih saja terpencil
Di dalam intiku.








Selasa, 29 Januari 2019

Sajak Kecil


Tiga Sajak Kecil dari Pak Sapardi
untuk kamu.

/1/
bayang-bayang hanya berhak setia
menyusur partitur ganjil
suaranya angin tumbang

Minggu, 27 Januari 2019

Selamat Datang

Bergelayut manja
Serupa anak burung ditopang dahan kokoh, diayun senja
Terbuai irama dalam nada-nada kesyahduan jiwa
Setelah ditimang cinta berbilang purnama

Engkau yang datang dalam ruang tiada tepi
Histeria pertemuan menumbuk alegori
Dibenamkan wajah lusuhnya di bidang dadamu yang sehangat mentari pagi
Menjeda masa, menikmati tiap desir halus dalam hati, tanpa diksi

Dan fajar mengharuskan engkau pergi
Meninggalkan pucuk-pucuk kasih
Yang tetap semi di musim gugur
Tetap hangat di badai musim dingin

Jejak-jejaknya akan meninggalkan waktu
Berlipat-lipat
Namun doanya tetap
; Di depan akan terbuka lembar yang ada gambar
Dua sukma yang kemarin menjerit demi mengoyak kesunyian
Dipertemukan
Menyeka gurat-gurat keletihan
Membasuh rintih-rintih kerinduan
Mengekalkan kasihsayang
Dalam perahu mayang sang Rahman.



Pixabay


270119, ketika kau datang...

Selasa, 27 Maret 2018

Pulang

Foto dari sini.


Di antara ingar semesta
Dan dengung sumbang sosial media
Sukma memancing hening
Batin terjaring bening.

Di sana, rembulan masih sendirian
Dia yang kukira menyimpan rindu yang pendiam
Ternyata bukan.
Kulihat rembulan menangis menahan terlalu banyak beban
kepedihan insan-insan kesepian
keletihan jiwa-jiwa yang terhalang ruang.

Senin, 05 Februari 2018

UntukMu

 
punya simbah google

Esok,
ketika syairnya tak lagi terbang dibawa kesiur angin yang menelusup di antara bebaris pohon di lapangan hijau depan kamarmu
juga tak lagi berisik datang bersama cericip gelatik yang merumput di pekarangan kantormu
dan lembaran malam senantiasa diringkus sunyi yang menjadi-jadi
bulan ikut-ikutan jadi pendiam
bintang-bintang lupa cara mengedipkan pesan
bahkan detak jam menjadi sekarat.

Minggu, 21 Januari 2018

Layar

pinjam foto kakek google

Sepekan ini kelopak mata kananku berkedut-kedut tak karuan
Kamu jangan banyak-banyak mengingatku
Jangan sering-sering mengarang cerita tentangku
Jangan lama-lama menggambar mimpiku
Jangan gundah-gundah melukis aku yang lambat laun kamu tatap menjadi kamu
Berdoa saja
Semoga perahu kertas kita sampai ke surga. 

Sabtu, 20 Januari 2018

Tigapuluh Tahun Lagi

Foto pinjam google

Apakah tigapuluh tahun lagi kita masih bisa saling mengirim pesan?
Menitipkan rindu di antara huruf-huruf yang tersambung dan menjadi kalimat beranak pinak namun tak satupun kata rindu tertulis di dalamnya?

Adakah tigapuluh tahun lagi masih ada messenger?
Masih ada whatsapp?
Masih ada line?
Masih ada telegram?


O, adakah tigapuluh tahun lagi masih ada batang-batang kayu yang digiling dan menjadi kertas lalu dilipat menjadi pesawat
Meniupnya sekali
Melemparnya ke angkasa
Lalu dia akan hinggap di pangkuanmu yang sudah berambut tipis sewarna melati dan mungkin saja sudah pikun lantas terheran-heran lalu berkata,
“Rasa-rasanya, aku tak pernah naik pesawat yang sekecil ini.”

Adakah, adakah tigapuluh tahun lagi kita masih di sini?
Memandang langit malam yang satu, sama-sama, dari tempat yang jauh terpisah.


Adakah, adakah tigapuluh tahun lagi kesunyian tetap menjadi milik kita masing-masing? 

-Petrichor, jelang senja di dapur yang berisik hujan menyesaki telinga, 20-01-'18

Selasa, 09 Januari 2018

Rindu yang Bebal

Gambar dari google


Tuhan,
Lafal rindu ini mengapa tak pudar?
Padahal sudah kubakar dengan ribuan istigfar

Adakah ia terlalu bebal?


-dalam hujan yang terus membasuh rindu, sembilan Januari '18